Minggu, 25 Mei 2014

Pria Lain Lebih Menggairahkan

Pria Lain Lebih Menggairahkan

Tanya :
“Saya seorang wanita berumur 34 tahun, bekerja di perbankan, sedangkan suami berusia 37 tahun, bekerja di bidang perniagaan. Kami sudah dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Kami sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, dan dalam bidang ekonomi selalu bersandar pada saya (istri). Kadangkala waktu untuk bersenda gurau pun terasa sempit. Perlu diketahui suami saya kurang memperhatikan saya, terutama di bidang komunikasi, keuangan, kasih sayang, dan waktu. Saya sebagai istri lama-lama menjadi bosan dan jenuh dalam kehidupan yang terus-menerus dijalani dengan kebiasaan seperti itu. Suatu saat di tempat bekerja, saya mulai menyukai seorang pria yang benar-benar memperhatikan saya. Pria itu sudah beristri dan punya dua orang anak pula. Hubungan kami berlangsung tujuh tahun lamanya, sampai-sampai menuju ke hubungan suami istri, tanpa diketahui suami. Hubungan itu berlangsung sampai saat ini, dan kami jadi terbiasa. Hidup penuh saya gairah dengannya. Namun, sebagai wanita yang beragama, saya tidak mau sikap kami berlarut-larut. Kami tahu, yang kami lakukan adalah dosa. Yang ingin saya tanyakan, sudah menjadi kebiasaan saya, jika bertemu dengan orang yang saya cintai di kantor, barulah saya bisa bergairah lagi terhadap suami. Sebaliknya, jika sedang mendambakan lelaki yang saya sukai, hati terasa benci sekali terhadap suami. Bagaimana mengatasinya? Bagaimana sikap yang harus saya ambil dan perbaiki, mengingat orang yang saya sukai itu suami orang? Kami sama-sama saling mencintai dan pu nya masalah yang sama. Karena kami sudah telanjur mencintai, sulit untuk melupakan. Jika sampai saya lupakan, bukankah tidak mungkin saya menemukan lagi lelaki yang benar-benar cocok di hati saya?” Yn., Depok

Jawab:
Menimbulkan Risiko Tidak sedikit wanita bersuami yang mengalami masalah seperti Anda. Mereka juga merasa tidak diperhatikan oleh suaminya, jenuh, tak lagi dapat berkomunikasi dengan baik, bahkan tidak merasa ada ikatan emosional lagi. Memang tidak semua kemudian menjalin hubungan cinta dengan pria lain. Sebagian kemudian dapat mengatasi masalahnya, sebagian lain dapat beradaptasi dengan situasi seperti itu. Sebagian lain, ya seperti Anda, menjalin hubungan dengan pria lain. Tentu saja hubungan dengan pria lain dapat menimbulkan risiko, apalagi kalau hubungan itu dirasa lebih menyenangkan daripada dengan suami. Salah satu risiko ialah seperti yang Anda rasakan, merasa benci sekali terhadap suami. Perasaan ini muncul karena Anda merasakan pria itu dapat memberikan kepuasan, sedangkan suami tidak. Di pihak lain, pria itu juga mengalami perasaan yang sama. Hubungan pun berlanjut terus sampai sekian lama. Risiko lain yang mungkin terjadi ialah bila istrinya atau suami Anda mengetahui hubungan ini. Ikatan Emosional Hubungan seksual yang penuh gairah dengan pria itu, secara psikis memang dapat berpengaruh bagi gairah terhadap suami. Jadi, dapat dimengerti kalau Anda baru bergairah terhadap suami setelah bertemu dan mungkin melakukan hubungan seksual dengan pria itu. Namun, bukan berarti hubungan seksual dengan suami pasti menjadi baik juga. Perbedaan gairah seksual terhadap pria itu dan terhadap suami dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain ikatan emosional dan pengalaman seksual sebelumnya. Kalau ikatan emosional dengan suami sudah hilang, sementara dengan pria itu sangat dalam, tentu hubungan seksual dengan pria itu dirasakan lebih memuaskan. Demikian juga bila pengalaman seksual sebelumnya dengan suami tidak memuaskan, tentu hubungan seksual dengan pria itu dirasa lebih memuaskan. Apalagi kalau fungsi seksual pria itu lebih baik daripada fungsi seksual suami. Keinginan Anda untuk menghentikan hubungan dengan pria itu, saya pikir bukanlah hal yang mudah. Masalahnya, telah terjadi ikatan emosional yang dalam antara Anda dan dia dalam hubungan yang telah terjalin cukup lama. Selain itu tentu diperlukan kesepakatan antara Anda dan dia. Kalau hanya salah satu pihak yang menghendaki hubungan dihentikan, sementara pihak lain tidak menghendaki, tentu secara psikis sulit juga dilakukan. Hal yang juga sangat penting, hubungan pribadi Anda dan suami, termasuk hubungan seksual, harus dibina dengan baik. Karena memang itulah yang menjadi akar masalah Anda. Kalau tidak, maka akar masalah akan tetap ada, yang berarti tidak akan menyelesaikan masalah Anda dengan tuntas.

Ada banyak pria yang mengalami masalah saat harus melakukan hubungan seks, terutama ketika istri  sedang hamil. Hal ini biasanya disebabkan oleh perubahan biologis, sehingga menurunkan minat untuk melakukan hubungan seksual.

Banyak ibu hamil mengeluh bahwa pasangan mereka tidak lagi tertarik untuk berhubungan seks saat hamil, atau bahkan tidak dapat melakukannya. Namun, tak sedikit pula ada pria yang menganggap istri mereka terlihat lebih seksi saat hamil. 

Lantas apa masalahnya yang sebenarnya membuat para pria enggan melakukan hubungan seks saat hamil? Berikut adalah beberapa alasannya, seperti dikutip geniuspregnancy:

1. Kehadiran "orang lain"


Beberapa pria merasa tidak nyaman ketika melakukan hubungan intim saat hamil karena mengetahui mengetahui bahwa anaknya berada di dalam ruangan, yang dia sebenarnya sangat ketahui.

2. Takut melukai bayi
Sebagian besar pria percaya bahwa mereka mungkin akan mengenai kepala bayi saat melakukan penitrasi. Padahal ini jelas tidak mungkin. Anda (istri) harus menjelaskan hal tersebut kepada suami Anda.

3. Takut menyakiti pasangan (istri)
Komunikasi adalah hal yang sangat penting pada tahap ini. Anda harus menjelaskan kepada suami tentang apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak. Misalnya, katakan padanya untuk tidak melakukan tekanan pada area perut Anda. Itu tugas Anda untuk meyakinkan dia bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja selama melakukannya dengan posisi yang tepat dan tidak membahayakan Anda. 

4. Positioning


Anda harus menerima kenyataan bahwa bukan suatu perkara yang mudah untuk menemukan posisi yang tepat saat berhubungan intim kala istri sedang hamil. Tapi Anda dapat terus mencobanya dan mencari posisi alternatif yang lainnya.

5. Takut kalau sperma memicu kelahiran prematur
Pada situasi tertentu, hal ini memang mungkin saja terjadi. Sperma mengandung apa yang disebut prostaglandin, yang dapat memicu bayi lahir lebih cepat. Tetapi kondisi ini hanya akan terjadi apabila usia kehamilan sudah mendekati persalinan. Anda dapat menjelaskan hal ini kepada pasangan (suami) Anda bahwa seks saat hamil tidak akan menimbulkan masalah.

6. Keintiman tidak harus berhubungan dengan seks
Beberapa pria berpikir bahwa banyak cara untuk bersenang-senang tanpa terlibat dalam hubungan seksual. Untuk yang satu ini, mungkin Anda harus mengingatkannya dengan penuh gairah.

7. Pria tidak sadar bahwa ketika hamil wanita lebih intens mengalami orgasme
Beberapa wanita dapat mencapai orgasme lebih cepat daripada biasanya, bahkan dapat terjadi beberapa kali terutama saat hamil. Seluruh alat kelamin dan daerah panggul, termasuk rahim ukurannya membesar dengan volume darah, dan area vagina menjadi lebih sensitif. Setiap jenis rangsangan, walau hanya sekadar fantasi, seringkali cukup untuk memicu libido wanita kala hamil.
- See more at: http://infoseksdewasa.blogspot.com/2012/11/kenapa-pria-malas-berhubungan-seks-saat.html#sthash.pbnhxFcl.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar